Oleh: Husaini, Merbot di Teras Literasi Pucakwangi, Konsultan Pengembangan Media Lokal di Jateng, DIY.
Media sosial sekarang menjadi tempat favorit orang untuk berekspresi. Sementara ponsel sudah menjadi barang paling penting bagi semua orang, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Banyak orang memiliki lebih dari satu ponsel dan beberapa akun media sosial di berbagai platform. Di mana-mana dan kapan saja, orang sibuk menatap dan menggulir layar ponsel tanpa berhenti. Situasi ini sudah menjadi kenyataan sehari-hari baik di kota maupun dipelosok desa.
Kita semua kini sulit lepas dari ponsel: entah karena kebutuhan, iseng, gaya hidup, atau bahkan kecanduan. Ponsel membuat anak-anak jarang lagi bermain permainan tradisional yang penuh nilai budaya lokal. Mereka juga kurang bergaul dengan teman sebaya. Sementrara orang tua sibuk main ponsel sehingga pekerjaan rumah tangga terbengkalai. Mereka yang bekerja-pun menjadi kurang produktif.
Pengalaman penulis bergaul dengan para guru dan anak-anak sekolah, rata-rata mereka lemah dalam membaca, kosakatanya sedikit, dan sulit berkonsentrasi.
Padahal menurut UNESCO, literasi adalah kemampuan membaca, memahami, menganalisis teks, lalu menulis dan menggunakan teks tersebut untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah studi dari University of Georgia menemukan bahwa remaja yang terlalu sering menggunakan media sosial cenderung memiliki kemampuan membaca dan kosakata yang lebih lemah, serta sulit untuk berkonsentrasi.
Konten di Media Sosial
Konten di media sosial biasanya pendek, berwarna-warni, ada suara, cepat berganti, dan diselingi iklan. Hal ini jauh lebih menarik dibandingkan membaca buku, majalah, koran, atau novel yang teksnya panjang dan butuh ketekunan. Karena terbiasa dengan konten cepat sejak kecil, banyak remaja dan dewasa menjadi malas membaca tulisan ilmiah atau berbobot yang memerlukan kesabaran.
Kecanduan ponsel ini didukung oleh algoritma media sosial yang sengaja dibuat agar pengguna terus menggulir layar tanpa henti. Ada komentar yang memancing, kejaran like, dan subscribe. Akibatnya, muncul rasa cemas, takut ketinggalan tren, atau takut ketinggalan momen orang lain (disebut FOMO – Fear of Missing Out).
Banyak masalah muncul karena penggunaan media sosial yang tidak bijak, seperti perundungan, eksploitasi seksual, tawuran, pinjaman online ilegal, judi online, penipuan, intimidasi, dan ujaran kebencian. Semua itu mudah terjadi hanya karena orang sharing tanpa membaca sampai selesai atau tanpa memahami isinya. Ini adalah contoh perilaku rendah literasi, hanya demi mendapat like dan pengakuan.

Foto bersama pasca pelatihan menulis bersama Sosiawan Leak *Seniman dari Solo) di Teras Literasi Pucakwangi / Foto: Arsip Kegiatan Teras Literasi Picakwangi
Gerakan Literasi
Perpustakaan Nasional mendorong penerbitan buku di berbagai daerah agar buku lebih mudah didapat dan tersebar merata. Akhir-akhir ini, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang membatasi akun media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Kebijakan ini menjadi aturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah No. 17/2025 tentang perlindungan anak di ruang digital. Sayangnya, kebijakan ini terasa terlambat.
Negara-negara maju seperti Belanda, Finlandia, dan Inggris sudah lebih dulu melindungi anak-anak mereka dari dampak negatif media sosial. Kita di Indonesia baru bertindak setelah banyak kasus terjadi. Meski ada aturan dari negara, pengendalian utama media sosial sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Seharusnya manusia yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
Kita masih lemah dalam literasi dasar, tapi sudah sangat tergiur mengonsumsi konten digital. Akibatnya, kita sering bingung dan terombang-ambing. Kalau tidak hati-hati, kita bisa tenggelam dalam lautan informasi yang dangkal. Penguatan literasi tidak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah yang sungguh-sungguh, seperti menyediakan perpustakaan umum yang mudah diakses dan mendistribusikan buku secara merata ke seluruh daerah dari kota sampai ke pelosok desa.
Penulis di Kabupaten Pati, Jawa Tengah menemukan sejumlah individu dan kelompok kecil melakukan inisiasi menyediakan dan membangun pusat literasi untuk warga secara swadaya. Misalnya ada kelompok Pustaka Malam di Pati Kota yang sering beroperasi saat malam minggu di alun-alun simpang lima, sementara di Desa Pelemgerde, sebuah desa pinggiran di Kecamatan Pucakwangi ada Teras Literasi Pucakwangi yang tidak hanya menyediakan buku bacaan bagi remaja dan anak-anak secara gratis, namun juga menggelar event tiga bulanan berupa bedah buku, membuat pelatihan-pelatihan secara swadaya. Sayangnya pemerintah masih belum memperhatikan gerakan penguatan sumber daya manusia itu.