11
Mon, May

Desa yang Meredup: Ketika Anak-anaknya Pergi dan Ingatan Kolektifnya Padam *)

istimewa

Inspirasi
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Oleh: Husaini, Marbot Teras Literasi Pucakwangi

Hari ini, sesuatu yang pilu sedang terjadi di desa. Anak-anak muda desa pergi ke kota, membawa obor harapan, menyalakannya dengan sangat terang, tanpa meninggalkan cahaya di kampung halaman. Mereka pulang sesekali, tapi hanya sebagai tamu. Hati mereka sudah tidak bertaut lagi dengan tanah kelahirannya.

Baca juga: https://www.clakclik.com/inspirasi/2445-demokrasi-itu-butuh-kritik

Baca juga: https://www.clakclik.com/identitas/35-komunitas/1790-jembatan-ngantru-sorga-pembuang-sampah-sembarangan

Kita sadari atau tidak, desa semakin hari semakin meredup. Bukan hanya penduduknya yang berkurang, tapi ruhnya yang perlahan hilang. Desa-desa kita, yang dulu penuh cerita dan kehangatan, seharusnya menjadi wadah ingatan bersama. Ingatan kolektif — memori yang kita warisi bersama, yang membuat kita tahu siapa kita dan dari mana kita berasal — kini kehilangan tempat tinggalnya.

Ingatan tidak pernah hidup sendiri di kepala seseorang. Ia hidup dalam interaksi, dalam ruang, dalam tradisi, dalam cerita yang diceritakan malam hari di teras rumah. Ketika generasi penerus menjauh, memori itu kehilangan wadahnya. Ia mengering, lalu lenyap.

Desa hari ini semakin terasa seperti kos-kosan besar. Ada tempat tidur, ada atap, ada dapur. Tapi tak ada lagi keterikatan batin. Tak ada orang yang merawat kenangan, meruwat tradisi, atau menguatkan ikatan. Gotong royong yang dulu mengalir begitu alami kini terasa dipaksakan. Tradisi lisan yang dulu diturunkan dari orang tua ke anak kini terputus. Cerita nenek tentang masa kecil, lagu-lagu daerah, bahkan cara menanam padi dengan penuh doa — semuanya mulai pudar.

Anak-anak muda tumbuh terombang-ambing. Di kota mereka belajar modernitas, tapi kehilangan akar. Mereka punya gelar, punya pekerjaan, tapi kehilangan pijakan identitas yang sesungguhnya. Ketika pulang ke desa, mereka merasa asing di tempat yang seharusnya paling nyaman. Itulah kesedihan yang paling dalam: menjadi orang asing di kampung sendiri.

Desa, menjadi seperti lilin yang dibiarkan habis sendiri di tengah malam; yang terjadi di desa adalah penghapusan yang pelan, diam-diam, dan nyaris tak terasa.

Dok. Jampisawan dalam Festival Kali Juwana #5 for Clakclik.com

Oleh karena itu, kita perlu bertanya dengan hati yang lebih jujur: apakah kita rela mewariskan desa yang kosong makna kepada generasi berikutnya? Apakah kita rela kehilangan bukan hanya orang-orang, tapi juga jiwa kampung yang selama ini memberi kita kekuatan dan arah?

Desa bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah ingatan kolektif bangsa ini. Ketika desa kehilangan ingatannya, kita tidak hanya kehilangan masa lalu. Kita juga kehilangan sebagian dari masa depan.

Mungkin saatnya anak-anak desa yang kini di kota mulai menyisihkan sedikit cahayanya untuk kampung halaman. Bukan karena kewajiban, tapi karena kerinduan. Karena ada bagian dari jiwa kita yang hanya bisa bernapas tenang di sana — di tanah yang pernah mengenal kita sejak kecil, dengan segala luka dan keindahannya.

Desa yang meredup bukan hanya kehilangan anak mudanya. Ia kehilangan kita. Dan kita, tanpa sadar, juga kehilangan diri kita sendiri.

*) Ditulis untuk usulan tema Festival Kali Juwana 2026

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.