20
Sat, Jun

Biotilik: Mengawasi Kondisi Sungai dengan Metode Simpel namun Akurat

istimewa

Inspirasi
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Clakclik.com, 18 Juni 2026-- Sungai merupakan salah satu ekosistem darat yang paling rentan karena menghadapi tekanan lingkungan yang sangat tinggi. Kerusakan daerah resapan air, bantaran sungai, serta eksploitasi sumber daya alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengabaikan daya dukung lingkungan menjadi penyebab utamanya.

Selama ini, pemantauan kesehatan ekosistem sungai sering dianggap memerlukan alat-alat canggih dan mahal, sehingga sulit diakses oleh masyarakat biasa. Namun, metode Biotilik (biomonitoring) hadir sebagai solusi sederhana namun sangat efektif. Metode ini memungkinkan kelompok masyarakat dan komunitas untuk langsung menilai kondisi ekologis sungai beserta daerah alirannya.

Biotilik adalah metode pemantauan kualitas sungai dengan memanfaatkan makroinvertebrata sebagai indikator biologis. Beberapa contoh biota yang digunakan antara lain bentos, larva capung, udang, siput, dan cacing. Hasil pengamatan ini dapat mengungkap adanya gangguan lingkungan di ekosistem sungai, sehingga langkah penanggulangan yang tepat bisa segera direncanakan.

Menurut Prigi Arisandi dari Ecoton sekaligus Ketua BT Telapak-Jabagtim, Biotilik sangat mudah diterapkan. Caranya hanya dengan mengambil sampel biota di dasar sungai, tepian, atau yang menempel pada bebatuan dan substrat. Biota yang ditemukan kemudian dicocokkan dengan gambar panduan yang tersedia di dalam modul.

Selanjutnya, biota tersebut dikelompokkan menjadi dua kategori:
• Biota sensitif (tidak toleran terhadap pencemaran)
• Biota toleran (tahan terhadap pencemaran)

Keberadaan biota sensitif seperti larva kunang-kunang atau larva capung menandakan bahwa kualitas air sungai masih baik dan belum tercemar. Sebaliknya, dominasi biota toleran seperti cacing darah (cacing tanah) dan cuncum menunjukkan bahwa sungai sudah dalam kondisi tercemar atau “sakit”.

Keunggulan utama Biotilik adalah kecepatan dan biaya rendah. Hasil pemantauan bisa didapatkan paling lama dalam waktu 1 jam. Bandingkan dengan metode fisika-kimia konvensional seperti pengukuran BOD dan COD yang memerlukan waktu minimal lima hari di laboratorium.

Meski parameter fisika-kimia seperti pH, suhu, TSS, dan turbidity bisa langsung terbaca, peralatannya sangat mahal. Jika rusak, suku cadangnya pun harus dipesan dari Amerika atau Singapura. Sementara Biotilik hanya butuh jaring dengan mata jaring ≤ 500 mikron, yang bisa diganti dengan jaring nener atau kasa nyamuk yang mudah ditemukan di toko material.

“Biotilik mudah, murah, dan bisa dilakukan secara massal oleh banyak orang sekaligus. Dengan metode ini, kita bisa mengambil langkah antisipasi cepat sebelum kerusakan sungai semakin parah,” jelas Prigi.

Selama sepuluh tahun terakhir, Ecoton bersama Inspirasi (Institut Perlindungan dan Pemulihan Sungai) telah menguji coba dan menerapkan metode Biotilik di DAS Brantas. Tujuannya untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, terutama generasi muda, agar aktif menjaga kelestarian sungai.Saat ini, di hulu Sungai Brantas, pelajar dan komunitas rutin memantau kesehatan sungai setiap dua minggu sekali. Mereka menggunakan sistem bendera: kuning untuk kualitas air baik, hijau untuk sedang, dan merah untuk kualitas air buruk.

Pemantauan Biotilik disarankan dilakukan pada musim kemarau, ketika debit air relatif stabil dan tidak terjadi banjir. (c-hu)

Sumber: https://mongabay.co.id/2013/05/18/biotilik-memantau-kesehatan-sungai-lewat-cara-sederhana-namun-efektif/

 

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.