12
Mon, Oct

Bahaya Glorifikasi Kejahatan di Media Sosial bagi Anak

by Clakclik.com

Instansi
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

OLEH: HUSAINI | MARBOT TERAS LITERASI PUCAKWANGI

Akhir-akhir ini, perhatian orangtua dan pendidik dikejutkan temuan tentang puluhan grup media sosial yang terafiliasi dengan True Crime Community atau TCC. Fenomena digital ini tidak boleh dipandang sebelah mata, sekadar hobi membaca kisah misteri kriminal atau detektif biasa.

Sejumlah media memaparkan data anak yang terjerat platform digital ini. Densus 88 Antiteror Polri mengungkap ada 27 grup medsos teridentifikasi dengan TCC. Sepanjang Januari 2025-Januari 2026 ditemukan 70 anak yang menjadi anggota tersebut dan 67 anak telah menjalani konseling (Kompas, 9/1/2026). Mayoritas di rentang usia 11-18 tahun. Di Jawa Timur tercatat 11 anak terpapar.

Ancaman tersebut semakin besar karena 99,4 persen anak di Indonesia menggunakan internet. Berdasarkan data Unicef, rata-rata penggunaan internet anak mencapai 5,4 jam per hari serta 42 persen anak pernah mengalami pengalaman daring yang membuat mereka tidak nyaman dan takut.

Alih-alih menjadi ruang diskusi, ruang tersebut bergeser menjadi wadah glorifikasi, perayaan, hingga romantisasi terhadap figur pelaku kejahatan ekstrem. Sadisnya lagi, paparan konten kekerasan sadis tanpa sensor secara konsisten berpotensi mengikis empati anak, menghilangkan batas moral, bahkan menjadi pintu masuk doktrinasi radikalisme digital. Anak-anak yang sedang mencari jati diri di dunia nyata menjadi sasaran empuk manipulasi psikologis dalam lingkaran ini.

Oleh karena itu harus dipahami bahwa kita tidak bisa lagi hanya menyediakan telepon seluler dan kuota internet tanpa pendampingan ketat. Digital printing harus ditingkatkan. Mari secara berkala memeriksa aktivitas digital anak, mengenali lingkungan grup yang mereka ikuti, dan membangun komunikasi yang terbuka agar mereka tidak mencari pelarian di ruang gelap internet.

Penyedia platform digital perlu memperkuat pengawasan dan penyaringan serta memblokir ekosistem digital yang menyebarkan konten kekerasan ekstrem. Melindungi anak dari ruang gelap internet bukan berarti menjauhkan mereka dari teknologi. Perlindungan terhadap masa depan psikologis anak muda harus menjadi prioritas utama.

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.