28
Tue, Apr

Resensi Buku: Nyi Sadikem karya Artie Ahmad

dok. Clakclik.com

Inspirasi
Typography
  • Smaller Small Medium Big Bigger
  • Default Helvetica Segoe Georgia Times

Oleh: Husaini | Marbot Teras Literasi Pucakwangi

Nyi Sadikem (Marjin Kiri, 2025) adalah novel fiksi sejarah yang kuat dan menyayat hati. Buku ini mengangkat tradisi gowok di Jawa tempo dulu dengan perspektif yang jarang dibahas secara mendalam: bagaimana perempuan yang terobjektifikasi oleh sistem kelas, ras, dan patriarki berusaha merebut kembali agensinya di tengah keterbatasan.

Tokoh utama lahir sebagai Elizabeth van Kirk, seorang perempuan Indo-Belanda keturunan gundik. Kehidupannya sejak kecil sudah penuh kerapuhan. Sebagai anak simpanan, ia tak pernah memiliki ruang aman—baik dari penderitaan ibunya maupun dari dunia luar yang melihatnya sekadar sebagai objek nafsu dan transaksi sosial. Musibah demi musibah datang bertubi-tubi: nama Elizabeth “mati” diganti menjadi Moerni, lalu harga dirinya sebagai perempuan direnggut oleh lelaki-lelaki bajingan. Hingga akhirnya, ia memasuki dunia yang tak pernah ia bayangkan: menjadi seorang gowok.

Sebagai gowok, tugasnya adalah membantu para perjaka mempersiapkan diri memasuki pernikahan sekaligus membuktikan kejantanan mereka. Profesi ini membuka matanya lebih lebar terhadap sisi terburuk lelaki—nafsu yang tak terkendali, kekerasan yang tersembunyi, dan ketidakadilan struktural yang terus menggerus perempuan, terutama mereka yang tak punya daya, kekuatan, maupun uang untuk melindungi diri.

Namun, novel ini bukan sekadar cerita penderitaan semata. Artie Ahmad berhasil membangun perjalanan karakter Moerni—kemudian Nyi Sadikem—dengan sangat apik. Dari luka-luka masa lalu, ia belajar. Relasinya meluas, ia naik kelas secara sosial, dan yang paling penting, ia menemukan inspirasi dari sosok Sadikem lain yang membuatnya memutuskan untuk “menghidupkan kembali” nama itu. Penambahan “Nyi” di depan nama bukan sekadar gelar, melainkan pernyataan: ia bukan lagi gadis remaja yang rapuh, melainkan perempuan dewasa yang sadar dan teguh.

Dok. Clakclik.com/Arsip

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah cara Nyi Sadikem menarik garis tegas dalam hidupnya: tidak ada ruang untuk cinta dalam pekerjaannya. Hubungan dengan lelaki baginya hanya transaksi—uang dan kebutuhan. Ia menolak mengulang kehancuran yang pernah dialaminya. Kecantikan yang semestinya menjadi modal justru sering menjadi kutukan, karena di mata banyak lelaki, ia hanyalah tempat pelampiasan nafsu hewani.

Meski penuh tragedi dan emosi yang berat, pengembangan karakternya sangat meyakinkan. Nyi Sadikem tidak terlena dengan kecukupan materi yang akhirnya ia raih. Sebaliknya, ia menggunakan posisinya untuk menolong para gadis agar tidak mengalami nasib serupa dengan ibunya. Perlahan, ia merebut kembali segala hal yang pernah direnggut darinya: harga diri, otonomi, dan kekuatan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Alur cerita mudah diikuti dengan bahasa yang ringan dan mengalir. Ada beberapa istilah lokal dan historis yang mungkin baru bagi pembaca, tetapi untungnya disertai glosarium di bagian belakang, yang sekaligus memperkaya kosa kata. Tokoh pendukung memang cukup banyak, namun mereka berfungsi sebagai katalisator yang membentuk Nyi Sadikem menjadi “perempuan baja”—tangguh, tak gentar, dan bijaksana.

Buku ini berhasil menggambarkan betapa kelamnya menjadi perempuan tanpa kekuasaan di masa itu. Tubuhnya diperkosa, harga dirinya dilucuti, dan harapan akan cinta serta janji lelaki sering kali hanyalah ilusi. Namun di balik kegelapan itu, Nyi Sadikem juga menjadi gambaran perlawanan yang tenang namun tegas: perempuan yang belajar dari trauma, menolak menjadi korban abadi, dan pada akhirnya memilih hidup mandiri tanpa bergantung pada lelaki.

Dengan latar kolonial Jawa yang kental, novel ini tidak hanya menghidupkan kembali tradisi gowok yang jarang dibahas, tetapi juga menawarkan perspektif feminis yang tajam tentang objektifikasi, kelas sosial, ras, dan ketahanan perempuan.

Nyi Sadikem adalah bacaan yang kuat bagi pecinta fiksi sejarah Indonesia. Meski berat secara emosional, buku ini meninggalkan kesan mendalam tentang keteguhan seorang perempuan di tengah sistem yang semena-mena. Artie Ahmad berhasil menyajikan kisah kelam tanpa terjebak menjadi sensasional semata, melainkan dengan kedalaman karakter dan pesan yang jelas.

Sangat direkomendasikan, terutama bagi yang ingin memahami sisi gelap sejarah perempuan Jawa sekaligus melihat bagaimana kekuatan bisa lahir dari luka yang paling dalam.

Sign up via our free email subscription service to receive notifications when new information is available.